Lora Lossy

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim incididunt ut labore, nostrud exercitation ullamco laboris.!

Angela Johny

Yorem delly dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, incididunt ut labore incididunt ut labore et dolore magna aliqua.!

Mark Clerk

Woram Losy dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. incididunt ut labore, quis nostrud exercitation ullamco laboris.!

Alex Damn

Palorm Roelm dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, incididunt ut labore sed do eiusmod tempor et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris.!

Our Blog

Patah Tumbuh Hilang Berganti - Zunaidah Subro



Novel karya Zunaidah Subro yang berjudul Patah Tumbuh Hilang Berganti

Angkatan 45’


1. SINOPSIS

Seorang gadis bernama Zulaiha sedang termenung sendirian karena kalung emasnya hilang ketika ia menyabit padi. Ia sangat takut bila orang tuanya mengetahuinya. Itulah sebabnya, ia melamun dan memisahkan diri dari teman-temannya yang sedang bersenda gurau. Hanya kepada sahabatnya, amisnawati, ia menceritakan hal itu.

Tak jauh dari tempat gadis itu,dua orang pemuda, Yusuf dan Nazili sedang membicarakan kalung yang mereka temukan tadi pagi. Nazili ingin memberikan kalung itu kepada Zulaiha, gadis yang selama ini telah menggoyahkan benteng hatinya. Ia sendiri tidak menyadari sejak kapan ia mulai mencintai gadis itu. Ia ingin mengutarakan perasaannya, tetapi tidak berani. Melalui kalung inilah, ia akan mengutarakan perasaan cintanya kepadanya.

Misnawati menghampiri kedua pemuda itu. Ia menceritakan tentang kalung Zulaiha yang hilang. Ketika Yusuf memperlihatkan kalung yang ia tamukan,gadis itu merasa senang bekan kepalang karena kalung itu benar-benar milik Zulaiha. Mereka sepakat untuk menyerahkan kalung itu kepada pemiliknya, namun Nazili menolaknya. Ia ingin menyerahkannya sendiri sambil mengutarakan perasaan hatinya.

Zulaiha telah berada dihadapannya, namun tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut Nazili. Hatinya berdebar kencang. Ketika datang sedikit keberanian, ia memberikan kalung itu dan mengutarakan perasaan hatinya. Zulaiha menjadi merah padam dan ia berlari meninggalkannya tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Nazili merasa bingung melihat tingkah Zulaiha. Ia merasa bahwa kata-katanya telah menyinggung perasaan gadis itu. Sementara Zulaiha pun merasakan hal yang sama. Dalam usianya yang menginjak empat belas tahun, ia sama sekali belum mengenal arti cinta. Tiba-tiba ia merasa khawatir bila tingkah tadi siang telah menyinggung perasaan Nazili. Keesokan harinya, Zulaiha meminta maaf kepada Nazili. Bukan main senangnya hati Nazili ketika ia mengetahui bahwa Zulaiha tidak marah kepadanya. Mereka pun pulang kerumah masing-masing. Sesampainya di rumah Nazili tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun padahal hari telah larut malam. Ia kemudia mengambil secarik kertas, dan mulai menulis surat cinta untuk Zulaiha yang akan ia titipkan kepada Misnawati.

Keesokan harinya Zulaiha menerima surat itu dengan berdebar-debar. Ia sangat berbunga-bunga ketika ia mengetahui isinya. Sejak itu resmilah keduanya sebagai kekasih. Keduanya selalu berjalan bersama-sama seakan tak pernah terpisahkan. Namun, hubungan mereka tidak berjalan mulus karena suatu hari sepupunya Zulaiha yang bernama maryam mengganggu hubungan cinta kasih mereka.

Maryam menghampiri Nazili yang sedang berjalan sendirian. Ia mencoba merayu pemuda itu sehingga Nazili pun mulai melupakan Zulaiha. Ia lupa kepada janji-janji manisnya kepada Zulaiha, karena dihadapannya ada wanita yang kecantikannya tak kalah dengan Zulaiha. Betapa sakit hati Zulaiha ketika ia mendengar hubungan kekasihnya dengan saudara sepupunya. Ia pun memutuskan untuk berpisah dengan Nazili. Sementara itu, nazili yang menyadari kesalahannya berusaha mendekati Zulaiha, namun pintu hati gadis itu telah tertutup untuknya.

Putusnya hubungan kasih dengan nazili, mendorong semangat Zulaiha untuk meneruskan sekolahnya. Tak lama sesudah itu ia berangkat ke kota palembang untuk melanjutkan sekolah. Ketika ia melihat teman-temannya sekolahnya telah menempuh dua kelas lebih tinggi dari dirinya, ia merasa sedih. Namun, gadis itu segera melupakan hal itu dan bertekad untuk belajar sungguh-sungguh. Di sekolahnya, ia bertemu dengan Marzuki, salah seorang teman sekelasnya menaruh hati kepadanya. Namu, Zulaiha menolaknya karena ia tidak mau sakit hati untukkedua kalinya. Marzuki memutuskan untuk keluar dari sekolahnya. Hal ini membuat Zulaiha merasa bersalah, namun ia tidak berlarut-larut memikirkan hal itu. Pikirannya terpusat pada ujian akhir yang sebentar lagi harus ia tempuh. Setelah dinyatakan lulus, Zulaiha segera berangkat ke Jakarta, dengan menggunakan pesawat terbang, untuk melanjutkan sekolahnya.

Di Jakarta ia tinggal bersama bibi Hawi. Tak jauh dari rumah bibinya, ada seorang pemuda bernama Arham yang melihat Zulaiha dan terkagum-kagum dengan kecantikannya. Pemuda itu segera menuju rumah bibi Hawi untuk berkenalan dengan gadis yang baru dilihatnya itu. Kedatangannya tidak sia-sia kareana bibi Hawi menyuruhnya untuk mengantarkan Zulaiha mencari sekolah di Jakarta. Sejak itu, Arham selalu berusaha untuk merebut hati Zulaiha. Ia memberanikan diri mengutarakan isi hatinya kepada gadis itu. Namun, Zulaiha tidak menjawab secara tegas, ia meminta Arham untuk langsung meminangnya kepada ayahnya di Palembang.

Ketika Zulaiha mendapat gelar diploma dari sekolahnya, ia memutuskan untuk kembali ke palembang. Namun kedatangannya ke Palembang justru membuat ia merasa sedih. Betapa tidak, ternyata ayahnya telah menjodohkan dirinya dengan Zunaidi, saudara sepupunya sendiri. Bahkan mereka telah menentukan tanggal pertunangannya. Betapa hancur hati Zulaiha karena ia di dalam hatinya telah tumbuh benih-benih cinta kepada Arham. Ia merasa sedih dan kecewa. Tak ada lagi senyum yang keluar dari bibirnya. Zulaiha menceritakan pertunangannya itu kepada Arham melalui suratnya.

Dalam suratnya, Arham menyuruh Zulaiha untuk bersabar. Ia akan berangkat ke Palembang untuk meminang Zulaiha, namun bila permohonannya ditolak, ia akan membawa Zulaiha meninggalkan Palembang dan membawanya ke Jakarta.Mereka akan menikah ke kota tersebut. Zulaiha semakin bingung menghadapi permasalahan ini. Ia menjadi pemurung, bahkan tidak pernah keluar dari kamarnya. Melihat hal itu, ayahnya menyesali keputusannya. Ia tidak ingin anak yang sangat ia cintai itu jatuh sakit karena keputusannya itu. Maka ketika Zulaiha keluar kamarnya, ia segera memanggilnya dan meminta Arham untuk menemuinya. Betapa bahagianya Zulaiha mendengar hal itu.

2. KUTIPAN NOVEL

2. KARENA LASAK DARAH REMAJA

a. Halaman 28-29

Bermacam-macam pikiran yang terniat dihatinya, sehingga tidak diketahuinya bahwa hari telah malam. Ia pun bangkit, lalu pergi mandi. Sesudah mandi bukannya makan yang diperlukannya, malah dia berbaring lagi menyambung angan-angannya. Dikatakannya kepada ibunya, bahwa dia sudah makan di sawah waktu akan pulang tadi.

Jam diding telah mengutarakan pukul 12. Nazili sekejap pun belum tertidur. Ingatannya selalu melayang kepada Zulaiha. Bagaimana juga dipejamkannya matanya tak juga mau tertidur. Kesal hatinya menanggung rindu. Perlahan-lahan dia bangkit dari tempat tidurnya. Dicari sepotong kertas dan pensil, lalu duduk menghadapi sebuah meja, dekat sebuah lampu minyak tanah yang kecil. Dia pun mulai menulis sebuah surat; demikian bunyinya :

Mr. Beranta, pukul 12 tengah malam

Adindaku Zulaiha, tumpuan cinta, sandaran jiwa.

Betapa risau hati Kakanda, taklah dapat Kakanda gambarkan di sini. Cemas bercampur Khawatir melihat kelakuan Adinda yang sudah-sudah. Sedih hati Kakanda, mendengar rahim meratapi untungnya.

Disebabkan oleh karena terlalu menahan hasrat hati, maka suatu penyakit yang disebabkan oleh karena perasaan rindu, telah menyerang diri Kakanda. Penyakit yang berbahaya, lagi sukar diobati, yaitu penyakit cinta. Cinta, bukan benda yang boleh dipermainkan, lagi pula dia bukan penyakit yang bisa ditulari oleh orang lain. Ia datang dari hati sanubari yang suci. Ia boleh mengancam jiwa seseorang yang dihinggapinya. Penyakit cinta, tak dapat diobati oleh seorang dokter, tetapi ia akan sembuh dengan segera, apabila ia mendapat penghargaan dari orang yang dicintainya.

Sudilah kiranya Adinda, mengizinkan cinta Kakanda ini hidup selama-lamanya dalam lubuk jiwa Adinda. Semoga ia akan mendapat rawatan yang baik. Izinkanlah Kakanda menjadi orang yang paling dekat kepada Adinda.

Sekianlah, buat pertama kali; tetap akan disambung.

Wassalam,

Nazili.

Keesokannya harinya pagi-pagi betul, Nazili telah bangun. Ingatannya akan mengirimkan surat itu kepada Zulaiha, selalu menyadarkan dia dari tidurnya. Ia pergi membawa surat itu kepada Misnawati, minta disampaikan kepada Zulaiha. Setelah surat itu diterima Misnawati, sambil mengucapkan terima kasih, ia pun pulanglah. Hari itu dia tidak pergi ke sawah. Berat rasanya dia akan berpisah dengan tempat tidurnya. Badanya letih raying, dsebabkan kurang tidur dan makan yang tidak teratur.

b. Halaman 31-32

Misnawati mengerti dengan tindakan Nazili demikian. Sambil mengerling tersenyum, dia berkata pula, “Sabar Naz, sebetulnya maksud saya tadi akan menolong dia lebih dahulu, dan akan pulang bersama-sama. Tapi dia sendiri keras menyuruh pulang mendahului, supaya surat ini dengan segera sampai ke tanganmu”

Sambil berkata itu dia mengulurkan sepucuk surat kepada Nazili. Melihat itu lapang dada Nazili dengan tiba-tiba. Hatinya berdebar-debar gembira. Segera disambutnya dengan gemetar, alamatnya diperhatikan dengan seksama.

“Apa lagi pesannya, Mis?” Tanya Nazili mulai meramah. Ia ingin mengetahui lebih lanjut tentang betik berita ikatan jiwanya itu.

“Tak ada lagi lainnya, hanya itu saja,” sahut Misnawati. Sambil berkata-kata ini ketiga mereka terus juga mengayun kaki dengan gontai, sehingga dengan tidak terasa perjalanan telah sampai. Pada sebuah simpang ketiganya berpisah, menuju rumah masing-masing.

Sesampai Nazili di rumah, tak tertahan lagi olehnya hendak mengetahui rahasia dalam surat itu. Dikoyaknya sampulnya dengan tergopoh-gopoh; surat dibaca berbunyi demikian:

Tengah hari, di tengah sawah

Kakandaku Nazili,

Jika Kakanda mencintai, cinta suci kepada Adinda, kedua belah tangan terbuka, Adinda sambut kedatangannya dan Adinda hargai lebih dari harta dunia. Mulai dari sekarang, setetes demi setetes, akan Adinda perluas tempat tumbuhnya di rongga dada Adinda, supaya dia dapat hidup dengan subur. Adinda berjanji akan memupuk dan menyiramnya di waktu panas dan memeliharanya dari bermacam-macam gangguan yang akan membikinnya pupus.

Adinda minta maaf atas kelakuan Adinda yang sudah-sudah. Janganlah Kakanda mengambil hati kepada tingkah laku Adinda yang kurang senonoh. Memang rupanya hal yang demikian adalah pembawaan Adinda sedari kecil, tak dapat Adinda ubah lagi. Lagi pula Adinda masih merasa kaku dalam segala-galanya, karena lautan cinta, baru sekali ini Adinda layari. Jadi janganlah kakanda mengambil pedoman dengan kesopanan laku dan kelemasan budi pekerti, karena segala gerak-gerik Adinda dalam semua ini, masih sangat jauh dari sempurna.

Tapi kakanda, pada perasaan Adinda tak perlu dari mata ke mata, cukup dari hati ke hati; karena kerling mata hanyalah tipuan, pura-pura cinta hanyalah saduran, perasaan hati itulah yang sejati.

Cukuplah sekian dahulu, lain kali disambung lagi.

Adinda.

Zulaiha

Sungguh mengobarkan pengharapan, isi suratnya, “kata Nazili dengan perlahan-lahan. “Mengapa tingkah laku yang ditunjukkannya selama ini menyesakkan nafas turun naik, dan memutuskan pengharapan hidup ?”

Berulang-ulang surat itu dibacanya kembali, serta diartikan apa maksud isinya.

“Betul ini yang akan kujadikan pedoman,” kata Nazili dalam hatinya, setelah puas merenung isi surat itu. “Bukankah katanya cukup dari hati ke hati ? Ah, rupanya dia juga mencintai aku. Akan tetapi sebagaimana isi suratnya ini, dia belum dapat berbuat sebagaimana mestinya, karena masih merasa canggung. Maklumlah baru kini dia mengenal cinta.”

4. MENGHABISI GEMBIRA

c. Halaman 49-50

Ketika pada suatu hari, datang seorang anak, menyampaikan maksud Nazili hendak bertemu dengan Zulaiha sebagai biasa, anak itu kembali dengan tangan hampa. Maksud Nazili ditolak oleh Zulaiha; dia tak dapat memenuhinya; karena dia banyak pekerjaan, mesti menolong ibunya menjemur padi pada hari itu. Jadi tak ada waktu yang terluang baginya

Menerima khabar ini putus asalah Nazili ketika itu juga. Untuk menghibur hatinya yang gundah ini, dia berjalan mundar-mandir, memperhatikan pemuda-pemuda dan gadis-gadis yang sedang tekun bercokol di bawah pondok-pondok pisang, mengemukakan perasaan hati masing-masing.

Sedang dia menghadapi kebingungan ini , tiba-tiba dia tertegun. Seorang gadis yang bagaikan bidadari, dengan deras menuju kehadapannya. Nazili bingung, mukanya mengkirap dengan tiba-tiba. Setelah dekat gadis itu menegur Nazili dengan senyumnya, “Kakak Naz, hendak kemana, Kak?”Nazili memandang seketika dengan gugupnya. Dia mundur selangkah ke belakang. Diperhatikannya perawakan gadis itu, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, lalu katanya, “Saya hendak pulang.”

Kalau dipandang sepintas lau, cantik jelita Maryam tak ada perawatnya dengan Zulaiha. Karena mereka masih setangkai pusat, jadi perawakan badan serta roman mukanya hamper betul serupa. Mereka ini masih cucu dari seorang nenek yang satu. Tapi Maryam selalu dihinggapi perasaan dengki kepada Zulaiha, saudara sepupunya itu.

Ketika Maryam dan Nazili sampai ke pengkolan lorong itu yang bersambung dengan jalan besar, keduanya berhenti di sana atas permintaan Maryam. Ketika itulah Maryam mencurahkan perasaan hatinya dengan secara sindiran. Perasaan yang telah lama mengiris hati, yang tak dapat dirasakan oleh orang lain.

Nazili, takkan menolak rezeki yang telah menyembah keharibaannya. Waktu itu juga perjanjian mulai diikat dengan secara damai. Nazili lupa kepada Zulaiha, gadis tempat dia memelihara kasih selama ini. Sekarang dia telah mendapat kawan perjuangan baru. Segala perasaan kasihnya kepada Zulaiha selama ini telah dihapuskan oleh kelampaian paras maryam, dewi yang halus ini. Maklum saja, kebanyakan pemuda jarang yang dapat membiarkan kecantikan wanita, berlalu dengan bebas dari hadapannya. Mau saja dia menikap kecantikan itu, jika sekiranya dapat. Segala sumpah di waktu bermuka-mukaan, dengan mudah dapat dialahkan oleh hawa nafsu. Janji pemuda, kini dibuat besok lupa.

6. TEMPIAS JATUH KE GURUN PASIR

d. Halaman 79-80

Demikian juga Arham, dia tak beberapa terkecuali . Pertemuannya dengan Zulaiha yang sekali itu, telah melebur seluruh imannya. Semalam-malaman itu dia hampir tak dapat melenyapkan Zulaiha dari ingatannya. Itulah sebabnya ketika baru saja semalam bertukar dengan siang, dia telah melangkahkan kakinya ke rumah Zulaiha, karena dorongan nafsunya yang sebagai api marak.

Waktu Arham duduk seorang diri menantikan zulaiha itu, cabang dan ranting pikirannya yang mengusik dia. Untunglah ketika pikirannya sedang bertempur hebat dengan hawa nafsunya, Zulaiha pun keluar, telah siap dengan susun pakaian yang rapi menghias dirinya. Keduanya mengucapkan selamat segala penghuni rumah Bibi Hawi, lalu keluar. Dalam saat itu juga, tampaklah keduanya berendeng di jalan, masing-masing mendayung sebuah sepeda.

Habis hari berganti hari, telah sebulan waktu berjalan, persahabatan Arham dengan Zulaiha tampaknya makin bertambah karib juga. Setiap pergi ke sekolah selalu berbareng, dan tak pernah berpisah waktu pulangnya. Sepanjang hari mereka selalu hidup berdampingan. Siapakah yang tak tahu, sumber apa yang selau berpencar?

Kedua sahabat ini selalu berada dalam istana cita-cita yang gembira

3. ANALISIS INTRINSIK

A Tokoh dan Penokohan

· Zulaiha; seorang gadis cantik dan terpelajar

· Nazili; kekasih pertama Zulaiha

· Misnawati; sahabat karib Zulaiha

· Yusuf; kekasih Misnawati

· Maryam; sepupu Zulaiha yang mencintai Nazili

· Marjuki; teman sekolah yang mencintai Zulaiha

· Bibi Hawi; bibinya Zulaiha

· Arham; tetangga bibi Hawi yang kemudian menjadi suaminya Zulaiha

· Junaidi; kemenakan ayahnya Zulaiha yang dijodohkan dengan Zulaiha

B. Tema

Setiap kejadian atau peristiwa yang dialami oleh seseorang, pasti ada hikmah dibalik musibah itu.

C. Amanat

· Janganlah memandang orang dari segi fisik, tetapi pandanglah dari ketakwaannya

· Seberat apaun cobaan yang diberikan kepada kita , hadapilah dengan kesabaran, ketawakalan, ketegaran, ketegaran, tidak patah semangat dan berdoa kepada Sang Pencipta.

· Dengan ketawakalan dan kesabaran dalam menghadapi segala cobaan akan mendapatkan hikmah dan kebahagiaan.

· Janganlah sekali kali mengumbar nafsu, karena nafsu yang tak terkendali dapat mencelakakan diri kita sendiri.

D. Latar

Kejadian ini terjadi di dusun Muara Beranta, Palembang dan di Jakarta

E. Alur

Maju, cerita dimulai dari Zulaiha berusia 14 tahun sampai dengan Zulaiha memperoleh pendidikan DIII, usianya setara dengan gadis dewasa.

F. Sudut pandang

Menggunakan kata ganti dia, ia (orang ketiga)

G. Gaya penulisan

Romantisme

4. KAITAN TEMA DENGAN ZAMAN DAN ESTTIKA

Perjalanan cinta kasih seorang wanita yang penuh dengan liku-liku. Selain itu juga bertekad bersekolah tinggi mungkin. Padahal, saat itu sangat jarang wanita yang bersekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Biasanya mereka hanya menempuh sekolah rendah saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Authorism Theme

Bob Olright

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.!

Karen Smith

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.!

Jessica Bankers

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.!

Johny Lora

4th one time fitness expert, wellness writer, personal trainer, group ex health coach. I am advocates of everything good in the fitness industry and of the people who make it great!

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.